ulil's posts with tag: renungan
Dalam shuhuf Ibrahim dikatakan, "Setiap orang yang berakal, selama dia masih bisa mengendalikan akal sehatnya, haruslah mempunyai empat waktu; waktu untuk bermunajat kepada Rabb-nya; waktu untuk memikirkan ciptaan Allah; waktu untuk berdialog dengan dirinya sendiri; dan waktu untuk menyendiri dengan Dzat pemilik keagungan dan kemuliaan. Sesungguhnya, waktu tersebut akan membantu dirinya untuk memanfaatkan waktu-waktu yang lainnya."Umar bin Khathab ra. berkata "Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena kalian lebih mudah menghisab diri kalian hari ini dari pada kelak! Bersiaplah untuk menghadapi pertemuan terbesar. Ketika itu, kalian dipertemukan dengan Allah dan tidak ada sesuatu apapun pada kalian yang tersembunyi."
 Dari SD samapai sekarang, kalau di tanya arah aliran air kemana? pasti kita jawab dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Umumya memang seperti itu. Tapi ada kalanya air mengalir dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi. Kapan? Ketika dia melewati pipa berukuran sangat kecil atau yang kita kenal dengan hukum kapilaritas. Misalnya ketika air melewati pembuluh pohon untuk naik dari tanah ke ke akar kemudian ke bagian pohon lainya. Lalu hubungannya dengan manusia? Kalau saya mencoba menghubungkan, sebagian besar dari kita mungkin sama seperti air yang mengalir alami, mengikuti arus, terbawa oleh zaman. Tapi ada sebagian lain (sebagian kecil), yang memilih jalan sempit, sulit, penuh cobaan. Tapi hasilnya, mereka bisa naik ke derajat yang lebih tinggi, membuat perubahan, membawa perbaikan. Berharap menjadi bagian dari mereka... amin.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Barangsiapa tidak mau menerima suratan nasib yang telah Aku putuskan, tidak bersabar atas segala cobaan yang Aku berikan, tidak mau berterima kasih atas segala yang Aku berikan, maka sembahlah tuhan selain Aku. Barangsiapa yang susah karena urusan dunia, sama saja ia marah kepada-Ku. Barangsiapa mengadukan musibah yang menimpa dirinya (pada manusia), ia sungguh-sungguh berkeluh-kesah terhadap-Ku." (Hadits Qudsi)
Do’a adalah senjata kaum beriman...Kata-kata ini mungkin terasa sangat biasa bagi kita. Kita yang hidup dalam kedamaian, ketenangan. Tapi disana, saat harus hidup dalam desingan bom dan peluru. Saat harus hidup tanpa listrik, makanan dan air bersih. Saat dimana mereka didhzalimi, sementara saudara seiman mereka di belahan bumi lainnya hanya berdiam diri. Maka do'a berubah menjadi kekuatan luar biasa. "Ya, Allah yang Maha Besar, kami sudah tidak mampu lagi berkata-kata dan nafas kami terasa sesak untuk mengungkapkan semua kepedihan ini. Namun Engkau yang Maha Tahu penderitaan kami ini, " seru mereka dengan penuh harap. “Allahumma aghits Ghazah.. “ Ya Allah, selamatkanlah Ghaza..
 "Cukuplah seseorang itu dianggap jahat apabila dia tidak mengerti tentang dirinya sendiri dan berpayah-payah melakukan apa yang tidak berguna baginya." (HR. Ibnu Hibban) "Di antara (tanda) baiknya keislaman seseorang adalah (sikapnya) meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya." (HR. At Tirmidzi) "Diantara tanda bahwa Allah berpaling dari seorang hamba adalah jika hamba tersebut menyibukkan diri dalam hal-hal yang tidak berguna baginya." (Al Hasan)
 Sebenarnya, apa sih yang terlintas dalam pikiran kita ketika pada suatu titik kita menyadari bahwa Allah (dalam banyak ayat al Qur'an) memerintahkan kita untuk memikirkan tentang hasil ciptaan-Nya di alam semesta? Kalau saya sendiri, pikiran saya akan langsung membayangkan tentang keindahan alam yang luar biasa, atau keseimbangan antara komponen yang ada di alam (misalnya proses rantai makanan). Ini bukan karena saya anak kehutanan lho, tapi mungkin karena inilah yang sering saya dengar dan saya baca ketika ada yang membicarakan masalah mentadabburi alam semesta. Setelah cukup lama menjelajahi dunia blog. Dimana salah satu bagian favorit saya adalah membaca kisah dan pengalaman hidup yang dituliskan oleh para blogger di blog mereka. Ternyata, dari beragam kisah dan pengalaman tersebut, banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik jika kita mau memikirkanya. Saya jadi kembali berpikir tentang makna perintah Allah untuk mentadabburi alam. Mungkin salah satu bagiannya adalah bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari hasil mentadabburi kisah dan pengalaman hidup manusia (yang merupakan bagian dari alam semesta), agar kita bisa semakin bijak menjalani hidup. "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur'an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (Q.s. Fushshilat: 53).
Bacalah...Bunyi perintah pertama yang diturunkan Allah kepada Rasulullah saw. Membaca ayat-ayat qauliyah berupa ayat-ayat Al Qur'an, maupun membaca ayat-ayat kaunyiah berupa tanda-tanda kebesaran-Nya yang bertebaran di alam semesta. Untuk itu Allah memberi kita perlengkapan berupa pendengaran, penglihatan dan hati. "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur" (QS. Al-Nahl: 78).Pendengaran dan penglihatan untuk membaca, melihat, mengamati dan mendengar, ayat-ayatnya dan hati untuk memikirkan dan menimbang baik dan buruknya. Dengan bekal itulah kita mencoba menemukan kesadaran diri. Menjawab pertanyaan siapa, dari mana, untuk apa dan akan kemana kita. Berapa usia kita sekarang? 20, 40, atau 70 tahun? Sudahkah kita menemukan jawabannya? Ataukah kita masih dalam kebingungan. "Maka, apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila kiamat sudah datang?" (QS. Muhammad: 18)
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal (nya)."
(An naazi'at: 40-41)
Sungguh luar biasa perkara orang beriman. Sesungguhnya segala perkaranya adalah baik, dan hal itu tidaklah terdapat pada diri seseorang melainkan bagi orang yang beriman, yaitu apabila ditimpa kesenangan dia bersyukur, maka hal itu adalah baik baginya. Dan apabila ditimpa kemalangan dia pun bersabar, maka hal itu adalah baik baginya.
(HR. Muslim)
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
(Asy Syams: 1-10)
Gak terasa ramadhan sudah memasuki 10 hari kedua. Semakin dekat perpisahan kita dengan ramadhan, seharusnya kita semakin meningkatkan ibadah kita. Termasuk salah satunya adalah sholat tarawih berjamaah. Jangan sebaliknya awalnya semangat tarawih di masjid, kemudian diakhir justru semakin melemah semangat kita.
Dari Abu Dzar radliyallahu`anhu, beliau berkata: "Kami berpuasa (Ramadhan), Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak shalat bersama kami sampai tersisa tujuh hari bulan Ramadlan. Beliau berdiri (untuk shalat) sampai sepertiga malam. Beliau tidak berdiri (shalat) bersama kami pada sisa malam keenam dan berdiri bersama kami pada sisa malam kelima sampai setengah malam. Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, seandainya engkau shalat sunnah bersama kami pada sisa malam ini.” Beliau menjawab: “Barangsiapa berdiri (untuk shalat tarawih) bersama imam sampai dia (imam) berpaling, maka dituliskan baginya shalat sepanjang malam.” Kemudian beliau tidak shalat bersama kami sampai tinggal tersisa tiga malam Ramadhan. Beliau shalat bersama kami pada sisa malam yang ketiga dan beliau memanggil keluarga dan istrinya. Beliau shalat bersama kami sampai kami mengkhawatirkan falah. Abu Dzar radliyallahu`anhu ditanya :”Apa falah itu?” Beliau menjawab: “(Falah adalah) Sahur.” (HR Ibnu Abi Syaibah)
Ucapan beliau shallallahu `alaihi wa sallam “Barang siapa shalat bersama imam…” jelas menunujukkan tentang keutamaan shalat tarawih di bulan Ramadhan bersama imam.
Seseorang berkata kepada Ahmad: “Saya mendengar shalat tarawih diakhirkan sampai akhir malam?” Beliau menjawab: “Tidak, sunnah kaum muslimin lebih aku sukai.”
Maksudnya adalah berjamaah shalat tarawih dengan bersegera ( di awal waktu) itu lebih utama daripada sendirian, walaupun diakhirkan sampai akhir malam. Shalat pada akhir malam memiliki keutamaan khusus. Berjamaah lebih afdhal karena Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengerjakannya bersama manusia di masjid pada beberapa malam. Oleh karena itu kaum muslimin melaksanakannya (secara berjamaah) pada jaman Umar radliyallahu `anhu sampai sekarang.
Rasulullah saja yang sudah diampuni dosanya, masih melakukan sholat malam sampai kaki beliau bengkak untuk menunjukan rasa syukurnya kepada Allah, jadi yang semangat ya shalat tarawihnya. Dengarkan lantunan ayat yang dibaca oleh imam sholat dengan khusyu', insyaAllah gak terasa capeknya.
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (An Nur:31)
"Sesungguhnya Allah Ta'ala membentangkan Tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu siang dan Dia membentangkan tangan-Nya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu malam hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya." (HR. Muslim)
"Allah Ta'ala berfirman: 'Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku niscaya Aku akan mengampunimu apapun yang ada pada dirimu. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu menjulang kelangit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau mendatangi-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemui-Ku tanpa menyekutukan-Ku sedikitpun maka Aku akan memberimu ampunan sepenuh bumi." (Sahih Turmudzi)
"Seandainya kalian melakukan kesalahan-kesalahan sepenuh langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya taubat kalian akan diterima." (Sahih Ibnu Majah)
“Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia."
***
Diantara 12 bulan lainnya, bulan adalah ramadhan bulan yang paling dinantikan oleh tiap muslim. Semakin dekat hari kita memasuki ramadhan, kita rasakan sendiri bagaimana kegembiraan hati kita menantinya. Kita siapkan segala sesuatu, dari mulai baca-baca buku tentang ramadhan, beli persediaan makanan, merancang aktivitas harian dan persiapan lainnya. Setelah menghadirkan kegembiraan seperti itu, yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah mengoptimalkan kelebihan yang Allah berikan pada bulan ramadhan ini. Salah satu yang terbaik adalah, bulan ramadhan ini Allah jadikan sebagai bulan pengampunan bagi kita. Setelah menumpuk dosa kita di 11 bulan sebelumnya, seharusnya ramadhan ini menjadi bulan yang benar-benar kita nantikan karena keistimewaannya ini. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (bahwasanya) beliau bersabda, "Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Hadits Riwayat Bukhari Muslim). Makna “Penuh iman dan Ihtisab" yakni membenarkan wajibnya puasa, mengharap pahalanya, hatinya senang dalam mengamalkan, tidak membencinya, tidak merasa berat dalam mengamalkannya. Jadi alangkah sayangnya, kegembiraan kita menyambut ramadhan ini hanya diikuti oleh aktifitas yang tidak jauh berbeda dengan hari-hari lainnya. Kalau kita masih lebih memilih menanti waktu sahur dengan menonton bola atau lawakan yang ada di televisi, dari pada menghabiskan waktu dengan sholat malam, apa bedanya dengan hari-hari lainnya? Kalau kita masih memilih mengisi siang kita dengan tidur-tiduran atau menghabiskan waktu dengan bermain game atau jalan-jalan yang gak penting dari pada membaca dan mentadabburi al Qur'an, apakah ramadhan yang telah kita nanti-natikan datangnya itu tidak menjadi sia-sia? Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu juga, (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata : "Amin, Amin, Amin” Ditanyakan kepadanya : “Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?” Beliau bersabda. “Sesungguhnya Jibril ‘Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan “Amin”, maka akupun mengucapkan Amin….” (Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah) Sekali lagi, ramadhan ini cuma 30 hari dari 360 hari dan cuma 1 bulan dari 12 bulan yang ada. Belum tentu tahun depan kita diberi kesempatan untuk bertemu lagi. Jadi mari kita manfaatkan keutamaannya untuk menghapuskan kesalahan 11 bulan sebelumnya dengan amal ibadah yang optimal dan menjauhi perbuatan yang sia-sia. Jangan samakan hari-hari ramadhanmu dengan hari-hari biasa.
Merasa cukup hanya dengan menjadi orang biasa-biasa saja, lama-kelamaan hanya akan memberi kelonggaran pada diri untuk terbiasa mentolerir berbagai kesalahan. Dan melemahkan semangat untuk memperbaiki diri. "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." Ali Imran: 110
Di dalam buku Kunci-kunci Tadabbur Al Qur'an karya Dr. Khalid bin Abdul Karim Al Laahim, salah satu bagiannya adalah bagaimana metode menghafal Al Qur'an. Menurut saya apa yang ditulis oleh beliau ini sepertinya lebih mudah dijalankan. Berikut ini caranya:
- Hendaklah permulaan hafalan al Qur’an dimulai dari surat An Naas lalu al Falaq, yakni kebalikan dari urutan surat-surat al Qur’an. Cara ini akan memudahkan tahapan dalam perjalanan menghafal Al Qur’an serta memudahkan latihan dalam membacanya di dalam shalat baik.
- Membagi hafalan menjadi dua bagian. Pertama, hafalan baru. Kedua, membaca al Qur’an ketika shalat.
- Mengkhususkan waktu siang, yaitu dari fajar hingga maghrib untuk hafalan baru.
- Mengkhususkan waktu malam, yaitu dari adzan Maghrib hingga adzan Fajar untuk membaca al Qur’an di dalam shalat.
- Membagi hafalan baru menjadi dua bagian: Pertama hafalan. Kedua, pengulangan. Adapun hafalan, hendaknya ditentukan waktunya setelah shalat fajar dan setelah Ashar. Sedangkan pengulangan dilakukan setelah shalat sunnah atau wajib sepanjang siang hari.
- Meminimalkan kadar hafalan baru dan lebih memfokuskan pada pengulangan ayat-ayat yang telah dihafal.
- Hendaklah membagi ayat-ayat yang telah dihafal menjadi tujuh bagian sesuai jumlah hari dalam sepekan, sehingga membaca setiap bagian dalam shalat setiap malam.
- Setiap kali bertambah kadar hafalan, maka hendaklah diulangi kadar pembagian pengelompokan pekanannya agar sesuai dengan kadar tambahan.
- Hendaklah hafalannya persurat. Jika surat tersebut panjang, bisa dibagi menjadi beberapa ayat berdasarkan temannya. Tema-tema yang panjang juga bisa dibagi menjadi dua bagian atau lebih. atau dapat juga dikumpulkan surat-surat atau tema-tema yang pendek menjadi satu penggalan. Yang penting pembagian tersebut tidak asal-asalan, bukan berdasarkan berapa halaman atau berapa barisnya.
- Tidak dibenarkan dan tidak diperbolehkan sama sekali melewati surat apapun sampai ia menghafalnya secara keseluruhan, seberapa pun panjangnya. Dan setelah menghafalnya secara keseluruhan, maka hendaklah diulang-ulang beberapa kali dalam tempo lebih dari satu hari.
- Apabila di tengah shalat malam mengalami kelemahan dalam hafalan sebagian surat, maka hendaklah dilakukan pengulangan kembali disiang hari di hari berikutnya. Dalam kondisi seperti ini, tidak dibenarkan memulai hafalan baru. Kebanyakan hal seperti ini terjadi di awal-awal hari setelah menyelesaikan hafalan baru.
- Sangat dianjurkan sekali untuk memperdengarkan surat-surat yang akan digunakan dalam shalat malam kepada orang lain.
- Sangat baik mendidik anggota keluarga dengan metode ini. Caranya dengan membuat jadwal pekanan bagi setiap anggota keluarga dan memperdengarkan hafalan kepada mereka di siang hari, mengingatkan kepada mereka, memotivasi mereka untuk membacanya ketika shalat malam, serta membekali mereka supaya bisa berlatih sehingga tumbuh berkembang diatas al Qur’an. Dan al Qur’an bisa menjadi teman bagi mereka yang tidak bisa lepas darinya dan tidak kuasa untuk berpisah dengannya. Serta bisa menjadi lentera yang menerangi jalan kehidupan mereka.
- Hendaklah memperhatikan cara membacanya. Bacaan harus tartil (perlahan) dan dengan suara yang terdengar oleh telinga. Bacaan yang tergesa-gesa walaupun dengan alasan ingin menguatkan hafalan baru adalah bentuk pelalaian terhadap tujuan membaca al Qur’an (untuk memperoleh ilmu, untuk diamalkan, untuk bermunajat kepada Allah, untuk memperoleh pahala, untuk berobat dengannya).
- Tujuan dari menghafal al Qur’an bukanlah untuk menghafal lafadz-lafadznya dalam jumlah yang banyak. tetapi tujuannya adalah mengulang-ulang surat yang telah dihafal dalam shalat dengan niatan, mentadabburi al Qur’an. tetapi apabila mampu menghafal banyak surat sesuai apa yang telah disebutkan diatas, itu lebih utama dari pada sedikit menghafal. Yang terpenting adalah menerapkan kaidah diatas. Apabila menurutmu waktu sangat sempit maka ambillah kadar yang sedikit namun terus diulang-ulang.
Barusan habis nonton Nagabonar jadi 2. Membuat saya sadar... Sebesar apa pun kasih sayang kita pada orangtua kita Tidak akan pernah bisa melebihi kasih sayang mereka pada kita Sebesar apa pun pengorbanan kita untuk orangtua kita Tidak akan pernah bisa lebih besar dari pengorbanan mereka untuk kebahagiaan kita
`Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)`.
`Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya`. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (Ali Imran:8-9)
Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur".
Maka setelah Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
(Yunus: 22)
"Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (An Nur: 35)
Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya...." (Az Zumar: 53-54)
"Apabila berlalu separuh malam atau duapertiganya, Allah Ta'ala turun ke langit dunia dan berkat: 'Adakah diantara manusia yang ingin meminta, maka ia akan diberi? Adakah manusia yang berdoa, maka doanya akan dikabulkan? Adakah manusia yang meminta ampun, maka ia akan diampuni?' Demikianlah hingga terbit fajar." (HR. At Turmizi)
| |