ulil's posts with tag: manusia
 Barusan selesai nonton CD The Secret. Lumayan juga buat mengingatkan kita untuk selalu berpikir positif. Tapi ada yang aneh. Tentang Hukum Ketertarikan (Law of Attraction). Kalau yang saya tangkap, hukum ini intinya mengatakan bahwa, apa yang menimpa diri kita adalah karena kita sendiri yang menariknya ke arah kita melalui pikiran kita. Kita bisa memiliki dan menjadi apa saja dengan memvisualisasikannya dalam pikiran, kemudian alam semesta akan meresponya dan mewujudkannya untuk kita. Di sinilah letak keanehannya, Alam semesta akan mewujudkannya untuk kita? Kenapa aneh? karena yang saya yakini, kita bisa saja dan mungin harus, memiliki pikiran positif, keinginan untuk maju, menjadi orang yang bermanfat bagi orang lain, dll. dan itu semua bisa kita sampaikan melalui apa yang namanya doa. Dan dalam konsep doa, ketika kita memikirkan, mengucapkan atau memvisualisasikannyanya kita memang harus memiliki keyakinan bahwa isi doa atau harapan kita tadi akan dikabulkan. Kemudian siapa yang akan mengabulkannya? Tentu saja Allah SWT. bukan alam semesta. Dia lah yang menciptakan, menguasai dan mengatur alam semesta. Menundukkannya untuk kepentingan manusia. "Dia-lah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanaman-tanaman; zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami-(nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dia-lah Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. An-Nahl, 16: 10-17)
Link: http://sosiologidakwah.blogspot.comBlog yang satu ini isinya mencoba membahas masalah-masalah di bidang sosiologi melalui kacamata Islam.
George Ritzer dan Douglas J. Goodman dalam "Modern Sociological Theory" (2003) menjelaskan, bahwa ada kecenderungan masyarakat dunia untuk menganggap sosiologi sebagai fenomena Barat. Padahal sesungguhnya Abdulrahman Ibnu Khaldun (1332-1400) telah sejak lama mengajarkan ilmu tentang masyarakat kepada para mahasiswa atau santrinya di Universitas Al Azhar, Mesir, yang merupakan universitas tertua di dunia. Barulah kemudian pada tahun 1842 Auguste Comte (1798-1857) memberi nama bagi ilmu tentang masyarakat ini dengan sebutan "sosiologi". Pendapat yang senada sebelumnya telah disampaikan oleh Bjorn Eriksson (1993), bahkan dengan tegas Bjorn Eriksson menolak sebutan "Bapak Sosiologi" bagi Auguste Comte. Bagi seorang muslim sebenarnya tidaklah terlalu penting tentang sebutan "Bapak Sosiologi". Seorang muslim lebih mementingkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memperkenankan hadirnya seorang muslim bernama Abdulrahman Ibnu Khaldun, yang memiliki keahlian dalam sosiologi. Dengan demikian setiap muslim perlu memanfaatkan sosiologi dalam menebar nilai-nilai Islam di seluruh dunia, agar setiap manusia berkesempatan menyerap "cahaya" Islam. Agar dunia berkesempatan membangun peradaban Islam, yang memanusiakan manusia. 
 Sebenarnya, apa sih yang terlintas dalam pikiran kita ketika pada suatu titik kita menyadari bahwa Allah (dalam banyak ayat al Qur'an) memerintahkan kita untuk memikirkan tentang hasil ciptaan-Nya di alam semesta? Kalau saya sendiri, pikiran saya akan langsung membayangkan tentang keindahan alam yang luar biasa, atau keseimbangan antara komponen yang ada di alam (misalnya proses rantai makanan). Ini bukan karena saya anak kehutanan lho, tapi mungkin karena inilah yang sering saya dengar dan saya baca ketika ada yang membicarakan masalah mentadabburi alam semesta. Setelah cukup lama menjelajahi dunia blog. Dimana salah satu bagian favorit saya adalah membaca kisah dan pengalaman hidup yang dituliskan oleh para blogger di blog mereka. Ternyata, dari beragam kisah dan pengalaman tersebut, banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik jika kita mau memikirkanya. Saya jadi kembali berpikir tentang makna perintah Allah untuk mentadabburi alam. Mungkin salah satu bagiannya adalah bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari hasil mentadabburi kisah dan pengalaman hidup manusia (yang merupakan bagian dari alam semesta), agar kita bisa semakin bijak menjalani hidup. "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur'an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (Q.s. Fushshilat: 53).
| |