ulil's posts with tag: kekayaan alam

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag kekayaan alam

"Penggunaan kaidah penelitian konvesional kadang malah membahayakan akidah Islam. Misalnya, penggunaan pemikiran sebagai asas sosial yang berasal Auguste Comte, Herbert Spencer, Max Weber, Karl Marx. Begitu pula sifat Sains Sosial pada umumnya yang anti-dogmatis, anti-teologi, dan bebas nilai.

Herbert Spencer menyatakan persaingan sebagai pendesak sosial yang dinamik. Teori yang dipengaruhi Darwinisme ini yang bisa mematikan ukhwah (persaudaraan) dan menafikan Adam serta tanah sebagai asal kejadian manusia.

Pemikiran Max Weber memunculkan kaidah tanpa nilai dalam mengamati fenomena dan realitas sosial. Max memisahkan teologi (agama) dari pengamatan realitas sosial. Padahal, teologi adalah pengukur benar tidaknya realitas tersebut. Contohnya pola penggunaan nafsu, kemiskinan dan jiwa versi Max Weber malah mengumbar keserakahan manusia.

Pemikiran Determinisme Karl Marx yang menganggap keyakinan substruktur (ekonomi) menentukan superstruktur (agama, perundangan, pemerintahan, kebudayaan, dan sebagainya) menafikan agama (Islam) sebagai penentu keseluruhan aspek hidup manusia."

Sumber: http://www.ipb.ac.id/Kritik Metode Penelitian Konvensional

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Terkait dengan masalah pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan angka kemiskinan, buku-buku yang saya baca sebagai referensi untuk menyusun skripsi saya (tentang kehidupan masyarakat tradisional) selalu berakhir dengan kesimpulan bahwa semakin tinggi tekanan penduduk mengakibatkan semakin banyak masyarakat yang miskin karena tidak mampu bersaing, dan semakin rusaknya alam karena eksploitasi yang berlebih. Persis sekali dengan pandangan Herbert Spencer diatas, bahwa persaingan adalah pendesak sosial yang dinamis. Kalau dipermudah artinya mungkin "Siapa yang kuat dia yang menang dan yang kalah akan semakin terinjak." Atau dengan pandangan Max Weber yang memandang manusia sebagai makhluk yang "pasti" serakah.

Kalau mengambil contoh hasil penelitian saya, ternyata sama sekali tidak seperti itu. Sistem kehidupannya sangat kental dengan nilai kolektifitas dan kebersamaan. Misalnya, dalam mengolah lahan untuk kebutuhan hidup masyarakat melakukannya secara berkelompok, jika ada yang tidak mempunya tanah garapan, maka boleh menanam dilahan orang lain dengan imbalan membantu menjaga kebun tersebut (bukan imbalan hasil tanaman). Kemudian, ketika ada upacara adat misalnya kematian, maka anggota masyarakatlah yang membantu dengan menyumbangkan bahan makanan untuk keperluan upacaranya. Dan masih banyak lagi contoh yang menunjukan kalau masyarakat tersebut bisa bersama-sama dan bahu-membahu dengan menanggalkan "keserakahan" pribadinya.

Sistem seperti itu ternyata mampu membuat warga masyarakatnya tetap bertahan dalam kondisi sulit. Contohnya saja, masyarakatnya bisa hidup normal ketika daerah lain mengalami kekurangan pangan (busung lapar). Kemudian tingkat penjarahan/ pencurian kayu di daerah ini paling kecil jika dibanding daerah sekitarnya. Artinya walaupun masyarakat dihadapkan pada masalah tekanan penduduk dan dilanda kesulitan ekonomi mereka dengan nilai-nilai yang dijalankannya bisa tetap bertahan tanpa menimbulkan persaingan yang saling mematikan dan tanpa menimbulkan kerusakan pada alam sekitarnya.

Masyarakat disana benar-benar paham bahwa rezeki itu sudah ada yang mengatur dan tidak akan lari kemana-mana. Dan bahwa perbuatan manusia yang berlebihan mengeksploitasi alam hanya akan menimbulkan kerusakan yang justru akan berakibat pada hilangnya sumber pemenuhan kebutuhan mereka. Jadi tidak ada yang namanya saling sikut-menyikut hanya karena berebut mencari pemenuhan kebutuhan hidup.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help