ulil's posts with tag: kehidupan
Link: http://sosiologidakwah.blogspot.comBlog yang satu ini isinya mencoba membahas masalah-masalah di bidang sosiologi melalui kacamata Islam.
George Ritzer dan Douglas J. Goodman dalam "Modern Sociological Theory" (2003) menjelaskan, bahwa ada kecenderungan masyarakat dunia untuk menganggap sosiologi sebagai fenomena Barat. Padahal sesungguhnya Abdulrahman Ibnu Khaldun (1332-1400) telah sejak lama mengajarkan ilmu tentang masyarakat kepada para mahasiswa atau santrinya di Universitas Al Azhar, Mesir, yang merupakan universitas tertua di dunia. Barulah kemudian pada tahun 1842 Auguste Comte (1798-1857) memberi nama bagi ilmu tentang masyarakat ini dengan sebutan "sosiologi". Pendapat yang senada sebelumnya telah disampaikan oleh Bjorn Eriksson (1993), bahkan dengan tegas Bjorn Eriksson menolak sebutan "Bapak Sosiologi" bagi Auguste Comte. Bagi seorang muslim sebenarnya tidaklah terlalu penting tentang sebutan "Bapak Sosiologi". Seorang muslim lebih mementingkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memperkenankan hadirnya seorang muslim bernama Abdulrahman Ibnu Khaldun, yang memiliki keahlian dalam sosiologi. Dengan demikian setiap muslim perlu memanfaatkan sosiologi dalam menebar nilai-nilai Islam di seluruh dunia, agar setiap manusia berkesempatan menyerap "cahaya" Islam. Agar dunia berkesempatan membangun peradaban Islam, yang memanusiakan manusia. 
 Sebenarnya, apa sih yang terlintas dalam pikiran kita ketika pada suatu titik kita menyadari bahwa Allah (dalam banyak ayat al Qur'an) memerintahkan kita untuk memikirkan tentang hasil ciptaan-Nya di alam semesta? Kalau saya sendiri, pikiran saya akan langsung membayangkan tentang keindahan alam yang luar biasa, atau keseimbangan antara komponen yang ada di alam (misalnya proses rantai makanan). Ini bukan karena saya anak kehutanan lho, tapi mungkin karena inilah yang sering saya dengar dan saya baca ketika ada yang membicarakan masalah mentadabburi alam semesta. Setelah cukup lama menjelajahi dunia blog. Dimana salah satu bagian favorit saya adalah membaca kisah dan pengalaman hidup yang dituliskan oleh para blogger di blog mereka. Ternyata, dari beragam kisah dan pengalaman tersebut, banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik jika kita mau memikirkanya. Saya jadi kembali berpikir tentang makna perintah Allah untuk mentadabburi alam. Mungkin salah satu bagiannya adalah bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari hasil mentadabburi kisah dan pengalaman hidup manusia (yang merupakan bagian dari alam semesta), agar kita bisa semakin bijak menjalani hidup. "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur'an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (Q.s. Fushshilat: 53).
Bacalah...Bunyi perintah pertama yang diturunkan Allah kepada Rasulullah saw. Membaca ayat-ayat qauliyah berupa ayat-ayat Al Qur'an, maupun membaca ayat-ayat kaunyiah berupa tanda-tanda kebesaran-Nya yang bertebaran di alam semesta. Untuk itu Allah memberi kita perlengkapan berupa pendengaran, penglihatan dan hati. "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur" (QS. Al-Nahl: 78).Pendengaran dan penglihatan untuk membaca, melihat, mengamati dan mendengar, ayat-ayatnya dan hati untuk memikirkan dan menimbang baik dan buruknya. Dengan bekal itulah kita mencoba menemukan kesadaran diri. Menjawab pertanyaan siapa, dari mana, untuk apa dan akan kemana kita. Berapa usia kita sekarang? 20, 40, atau 70 tahun? Sudahkah kita menemukan jawabannya? Ataukah kita masih dalam kebingungan. "Maka, apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila kiamat sudah datang?" (QS. Muhammad: 18)
| |